Free Web Hosting Provider - Web Hosting - E-commerce - High Speed Internet - Free Web Page
Search the Web

NLP-Consult
Assessment - Training - Consulting - Therapy

HOME ARTICLES SERVICES & PRODUCTS TRAINER & CONSULTANT CONTACT NEWS & EVENTS NLP FOR HR MGT NLP FOR SPECIAL PURPOSE GUEST BOOK

Welcome to NLP World!

TULISAN-TULISAN TENTANG APLIKASI NLP PRAKTIS

NLP ARTICLE

KEKUATAN VISUALISASI: BAYANGAN YANG MENJADI KENYATAAN

27 Pebruari 2007
Abdul Aziez

Dua tahun yang lalu, anak pertama saya sangat cemburu bila melihat teman-teman sebayanya (bahkan yang lebih muda darinya) bisa lalu lalang naik sepeda roda dua. Untuk ukuran anak kelas 2 SD (berusia hampir 8 tahun) memang agak terlambat kalau belum bisa naik sepeda roda dua dengan lancar. Sudah sering dia mencoba sendiri maupun dengan diajari oleh ibunya, namun kelihatannya sulit baginya untuk mencapai keseimbangan. Sehingga kalau mencoba sendiri, pada kayuhan pertama posisi sepedanya sudah miring dan kemudian terjatuh. Begitu juga saat sambil dipegangi oleh ibunya, kelihatannya sudah seimbang, tapi begitu ibunya melepaskan pegangannya dari sepeda, langsung oleng dan jatuh. Lama-lama dia jadi malas, bahkan mungkin takut untuk mencoba lagi, karena merasa selalu gagal.

Sebenarnya keinginannya untuk bisa naik sepeda roda dua cukup besar. Tiap hari dia haru pergi mengaji yang jaraknya sekitar 400-500 meter dari rumah. Karena tidak bisa naik sepeda sendiri, akibatnya dia harus dibonceng oleh temannya, meskipun naik sepedanya sendiri. Dia jadi tergantung pada temannya untuk berangkat mengaji. Kalau temannya kebetulan tidak pergi mengaji, dia pun harus tidak pergi juga. Keinginannya untuk bisa pergi sendiri, saat itu, masih belum cukup untuk mengalahkan perasaan takut mencoba belajar naik sepeda lagi, karena merasa selalu gagal.

Suatu kali saya merencanakan untuk mengajaknya belajar naik sepeda lagi. Tapi kali ini tidak di jalan depan rumah seperti biasa, melainkan di lapangan Gelanggang Olah Raga. Sehari sebelumnya saya dia saya tanya,”Kamu masih ingin bisa naik sepeda?” Dengan cepat dijawabnya,”Pasti! Aku ingin bisa pergi mengaji sendiri dengan naik sepeda!”

Saya teruskan,”Kalau begitu besok sore kita belajar sepeda di GOR.” Sekejap bola matanya bergerak ke kanan atas. Saya tahu, dia sedang membayangkan berada di GOR sedang belajar naik sepeda!”

Saya lanjutkan untuk memanfaatkan emosinya yang sedang naik untuk memprogram pikirannya dengan visualisasi. ”Besok sore kita belajar naik sepeda di GOR sebelah Timur, dekat lintasan sepatu roda. Di sana tempatnya luas dan jalannya rata. Enak untuk naik sepeda keliling-keliling.” Saya diam sebentar, saya biarkan dia membuat visualisasi sendiri tentang apa yang akan dilakukannya besok. Saya yakin dia sedang membayangkan besok sore dia sedang bersepeda keliling-keliling GOR.

Minggu pagi, kelihatannya dia tidak sabar menunggu sampai sore di GOR. Keinginannya untuk segera bersepeda terlalu menggebu-gebu. Dia mencoba di jalan di depan rumah. Saya biarkan di mencoba dengan caranya sendiri didampingi ibunya. Hasilnya? Tetap saja berkali-kali oleng dan terjatuh, sampai akhirnya berhenti mencoba karena sudah cukup banyak lecet di kaki.

Sore harinya saya ajak dia ke GOR seperti yang direncanakan kemarin. Waktu akan mulai dia saya tanya,”Kemarin kamu bayangkan kita belajar sepeda di mana?” Saya minta dia menunjukkan tempat yang persis dengan yang ada dalam visualisasinya.

“Sekarang kita mulai dari sini”

”Lihat kembali apa yang kamu lihat kemarin waktu kita rencanakan mau bersepeda di sini”

”Lihat kanan kirimu, persis sama kan dengan yang kemarin?”

”Suara mobil yang lalu lalang di jalan raya juga sama kan?”

”Sekarang duduk di sepedamu. Bagaimana? Rasanya sama kan dengan yang kamu bayangkan kemarin? Tempat duduknya? Pegangan kemudinya?

Dia hanya mengangguk-angguk karena pandangannya lurus ke depan. Seakan tidak sabar untuk segera membawa sepedanya ke satu titik yang sudah dilihatnya dari tadi.

”Sekarang rasakan bagaimana rasanya bisa naik sepeda! Persis seperti yang kamu bayangkan kemarin. Seneng kan?”

”Mari kita mulai. Lihat seperti yang kemarin dilihat. Dengarkan seperti yang kemarin terdengar. Rasakan seperti dalam bayangan kemarin. Bagaimana rasanya duduk, rasanya memegang kemudi, rasanya tertiup angin, rasa senang karena bisa bergerak seimbang…. terus rasakan…”

”Sekarang mulai kayuh pedalnya, tetap lihat lurus ke depan”

Dia mulai mengayuh sepedanya pelan-pelan sambil saya pegangi bagian belakang tempat duduknya. Mula-mula perlahan, masih agak goyang-goyang. Makin lama makin cepat, sehingga saya harus berlari-lari kecil di samping belakangnya. Ketika saya yakin dia sudah seimbang, pelan-pelan saya lepaskan pegangan saya, saya berhenti di tempat, sambil agak terengah-engah karena habis berlari-lari kecil cukup jauh. Dan tampaknya dia tidak menyadari kalau pegangan saya sudah saya lepaskan. Dia tetap stabil dengan sepedanya, tidak terlalu pelan, tidak terlalu kencang. Kelihatannya dia menikmati dengan melihat, mendengar dan merasakan seperti apa yang dia bayangkan kemarin tentang bagaimana dia bisa bersepeda.

Sampai akhirnya di ujung lintasan di terpaksa harus berhenti dan menurunkan kakinya. Barulah dia menyadari kalau saya sudah tertinggal jauh di belakangnya. Saya teriaki dia untuk memutar sepedanya. Dia turun sesaat untuk memutar sepedanya. Kemudian mencoba sendiri menuju ke arah saya. Mula-mula agak goyang, oleng, tapi pandangannya tetap ke arah saya, sampai akhirnya mulai seimbang dan sampai ke tempat saya berdiri tanpa terjatuh dan tanpa menurunkan kaki.

Luar biasa! Saya sendiripun kaget! Saya memang optimis dia sore ini harus bisa. Namun tidak secepat ini! Kurang dari 10 menit! Kemudian saya biarkan dia mencoba-coba sendiri. Kepercayaan dirinya sudah begitu tinggi. Emosi positifnya memuncak. Semangatnya untuk menikmati kemampuannya bersepeda sangat besar. Setelah merasa bisa bersepeda lurus, dia mencoba berbelok, memutar arah, mengerem, berjalan lagi, terus berulang-ulang sampai menjelang Maghrib kelihatannya dia sudah sangat lancar bersepeda. Malamnya dia masih ingin bersepeda lagi, karena gembiranya sudah bisa bersepeda. Dia coba di jalan di depan rumah dimana dia selalu terjatuh dan lecet-pecet. Ternyata tidak ada masalah. Dia tetap bisa bersepeda dengan seimbang dan menikmatinya berputar-putar arah.

Dalam NLP ada istilah Mind to Muscle. Dari sesuatu yang kita pikirkan bisa turun ke anggota tubuh yang lain, sehingga kita bisa melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang kita yakini dalam pikiran kita. Menggunakan Visualisasi dengan melibatkan semua indera akan sangat membantu kita untuk bisa melakukan sesuatu yang kita yakini pasti bisa kita lakukan. Kita lihat, kita dengar, kita rasakan semua situasi dimana kita menikmati sesuatu yang kita ingin lakukan, maka Insya Allah, dengan keyakinan yang kuat kita akan dapat lakukan seperti yang kita ingin lakukan. Hal ini dalam NLP merupakan bagian dari Well Formed Outcome. Semakin nyata kita membayangkan keberhasilan yang kita inginkan, maka semakin besar kemungkinan mencapai keberhasilan itu.

NLP ARTICLE

VISUALISASI : TEKNIK LUAR BIASA UNTUK RECALL INFORMASI

22 Pebruari 2007
Abdul Aziez

Pada waktu masih sekolah di SMP dan SMA dulu, entah karena cara belajar saya yang keliru atau memang metode pengajarannya yang kurang pas, seringkali saya dihadapkan pada situasi harus menghafalkan sekian banyak materi ajaran dalam waktu singkat, taruh kata semalam, karena keesokan harinya harus berhadapan dengan soal-soal yang harus dijawab dengan hafalan tersebut. Biasanya situasi seperti ini terjadi saat ujian, baik tes formatif , tes sub sumatif maupun tes sumatif (mungkin dalam sistem pendidikan nasional saat ini terminologi seperti itu sudah tidak digunakan lagi).
Seusia itu saya belum begitu tertarik mempelajari pola kerja otak, apalagi mendalapami NLP atau pendekatan mind power lainnya. Yang saya pahami hanyalah, saya harus hafal karena saya ingin nilai saya tidak buruk, kalaupun tidak bisa sangat baik. Kenapa? Motivasinya sederhana saja. Pertama sejak kecil saya terbiasa dipersepsi oleh lingkungan sekitar sebagai anak pandai. Mungkin karena ranking di kelas yang selalu sekitar 3 besar. Sehingga, kalau sampai nilai saya jelek, saya akan merasa malu dan mengecewakan lingkungan yang sudah telanjur mempersepsi saya sebagai anak pandai. Kedua, saya sendiri merasa bahwa saya punya kemampuan yang cukup baik, kalau tidak mau dibilang di atas rata-rata. Sehingga saya punya keyakinan dan optimisme, bahwa saya mampu menghafal atau apapun caranya, agar dapat menjawab soal-soal dengan benar.

Entah dari mana munculnya ide, yang biasa saya lakukan dalam waktu singkat adalah memindahkan materi ajaran yang cukup banyak tersebut ke atas selembar (atau beberapa lembar) kertas dengan kata-kata saya sendiri secara singkat, dengan membagi beberapa lokasi (koordinat) di atas kertas tersebut. Selembar kertas A4 saya bagi menjadi 8-12 kotak, dan masing- masing saya beri judul dan dibawahnya adalah beberapa frasa yang harus saya hafalkan. Setelah itu ringkasan di atas kertas saya baca berulang-ulang, bahkan sampai saya berangkat tidur hingga tertidur. Keesokan harinya ketika menjelang waktu ujian, saya masih terus membaca-baca ulang kertas-kertas coretan tangan saya tersebut, sampai tiba saat harus mengerjakan soal-soal.

Nah, pada saat mengisi jawaban yang membutuhkan hafalan tersebut yang saya lakukan adalah ”membaca” kembali kertas-kertas coretan tangan saya secara visualisasi. Artinya saya membayangkan seolah-olah sedang membacanya, meskipun kertas-kertas itu sedang tersimpan rapi di tempat yang tidak terjangkau. Ketika dihadapkan pada satu pertanyaan, akan terbayang letak jawabannya ada di kertas ke berapa pada kotak di lokasi (koordinat) mana. Lalu frasa-frasa apa yang ada di baris pertama, kedua, dan seterusnya. Dengan bermodalkan cara inilah, soal-soal yang membutuhkan banyak hafalan bisa terselesaikan.

Adakalanya pada saat ”membaca” secara visualisasi, ada bagian yang tampak kabur atau bahkan hilang! Baik itu kotak baris tertentu atau bahkan satu kotak tertentu. Dengan lebih berkonsentrasi (biasanya sambil mengarahkan bola mata ke atas) berangsur-angsur tulisan-tulisan itu bisa muncul lebih jelas. Sesegera mungkin pindahkan ke kertas jawaban sebelum ”gambar” itu kabur lagi.

Sepanjang yang saya alami saat itu, metode ini sifatnya instant, dalam arti cepat terekam namun apabila tidak diulang-ulang lagi (di-recharge) berangsur-angsur akan kabur bahkan pada saatnya akan hilang sama sekali. Hal ini bisa kita pahami karena untuk membuat suatu memory yang kuat dan mudah me-recall kembali, dibutuhkan kesan (impression) yang kuat dan terjadi pada kondisi emosional yang peak. Sehingga, metode visualisasi akan lebih bermanfaat jika dibarengi suatu kesan yang kuat yang masuk ke dalam otak kita melalui alat indera yang lain, apakah itu auditory, kinestetik, atau bahkan gustatory dan olfactory.

Dari beberapa paragraf cerita di atas, strategi yang bisa kita lakukan untuk mempersiapkan diri menghadapi suatu situasi yang kita harapkan bisa kita persiapkan dengan optimal adalah:

1. Tujuan yang Memotivasi

Dalam cerita di atas, tujuannya adalah bisa menjawab soal-soal ujian, terutama yang membutuhkan hafalan, dengan benar. Kenapa? Karena ingin memperoleh nilai yang baik, agar tidak malu, agar tidak mengecewakan orang-orang yang terlanjur mempersepsi diri saya sebagai anak pandai. Saya sendiri berkeyakinan saya punya kemampuan sehingga saya optimis bisa menjawab soal dengan benar dan memperoleh nilai yang baik.

2. Jalan Masuk yang Paling Disukai

Masuknya informasi ke dalam otak bisa melalui semua alat indera. Pada cerita di atas preferensi atau jalan masuk yang disukai adalah melalui mata (visual). Meskipun pada saat membuat coretan dilakukan secara kinestetik, namun yang ”dinikmati” adalah hasil coretannya, yaitu dibaca berulang-ulang sehingga terjadi secara repetisi (pengulangan) pemasukan informasi visual ke dalam otak.

3. Memperkuat Kesan

Karena masuknya informasi melalui jalan yang disukai yaitu visual, maka pada saat informasi akan dihadirkan kembali (diaktifkan) maka keluarnya juga jalan visual. Di atas disebutkan bahwa sifat metode ini instant, karena tidak menetap terlalu lama. Atau lebih tepatnya, untuk menghadirkan atau mengaktifkan kembali informasi itu, pada saat-saat yang akan datang, tdaiklah semudah pada saat-saat awal dimana informasi itu baru saja masuk atau terekam. Maka, untuk mempermudah mengaktifkan kembali pada saat-saat mendatang, yang sudah jauh waktunya dari saat-saat masuknya informasi ke otak, dibutuhkan kesan yang lebih kuat, yaitu dengan melibatkan alat-alat indera yang lain.

Pada konteks cerita di atas, bisa dilakukan misalnya pada saat proses menghafal, atau membaca berulang-ulang, dibarengi dengan suara tertentu, suhu udara tertentu, bau-bauan tertentu atau sambil mengecap rasa tertentu. Misalnya, sambil menghafal, diiringi dengan suara musik suatu lagu (meskipun tidak dominan dengan suara keras). Secara kinestetik berada di tempat dengan suhu tertentu (misalnya menggunakan kipas angin, AC, atau berada di ruangan sempit, dsb), sambil duduk di kursi yang empuk atau keras. Bauan-bauan misalnya bau parfum yang dipakai sendiri, atau pengharum ruangan atau bahkan bau alat tulis yang dipakai. Rasa bisa dengan menghafal sambil menikmati kembang gula atau asinan.

4. Menghadirkan Informasi dengan Lima Indera

Bilamana pada saat kita menghadirkan atau mengaktifkan informasi itu semua situasi sangat mendekati atau semirip mungkin dengan situasi pada saat kita menghafal, yaitu sambil mendengar lagu yang sama, atau berada di tempat dengan suhu yang sama, duduk di kursi yang kurang lebih sama, sambil menikmati rasa yang hampir sama, dan mencium bau-bauan yang mirip dengan yang tercium saat menghafal, maka visual kita akan lebih mudah ”membaca” kembali apa yang terekam secara visual sebelumnya, karena dibantu oleh kesan yang kuat berupa informasi yang pada waktu bersamaan juga ditangkap oleh alat-alat indera yang lain.



INSIGHT

MEMBEKALI DENGAN SENTUHAN CINTA

06 Maret 2007
Abdul Aziez

Segala sesuatu pasti memiliki awal. Awal yang baik akan membawa proses yang baik dan mencapai hasil yang baik pula. Hal ini sangat saya yakini, dan saya percaya bahwa keyakinan ini bermanfaat. Dalam NLP hal-hal semacam ini diistilahkan dengan presupposition. Keyakinan saya tentang awal yang baik tadi, membawa saya pada kebiasaan untuk membantu orang-orang di sekitar saya -istri dan anak-anak saya- untuk mengawali harinya dengan baik. Caranya? Sederhana saja. Ketika membangunkan mereka dari tidurnya di pagi hari, lakukan dengan penuh kelembutan dan sentuhan cinta. Karena perasaan apa yang mereka rasakan pertama kali saat mengawali hari ini, Insya Allah, akan mewarnai perasaan mereka melewati sepanjang hari ini.Ketika membuka mata pertama kali di pagi hari, apa yang dilihat, didengar, dan dirasakan, akan membekali map-nya tentang hari ini. Bayangkan apabila terbangun di pagi hari karena teriakan atau bentakan yang keras? Atau dengan menggoyang atau memukul bagian tubuh dengan kasar? Atau ketika membuka mata melihat wajah yang marah penuh ketegangan? Apa yang akan pertama kali terpikirkan? Buruk sekali hari ini! Dan bisa diduga, dengan map seperti itu, sepanjang hari ini akan banyak hal yang dipersepsi secara negatif (orang bilang bad mood) dan akan membawa pada hasil yang negatif pula.

Bandingkan dengan bila pertama kali membuka mata di pagi hari melihat senyum yang cerah, mendengar sapaan yang lembut, dan merasakan sentuhan cinta yang hangat. Wow! Hari yang indah! Dengan map seperti ini, maka segala hal yang ditemui akan disikapi secara positif, dan akan membawa hasil yang positif pula.

Apapun alasannya, bagaimanapun keadaannya, mari kita bantu orang-orang terdekat kita dengan perasaan positif ketika mereka mengawali harinya. Ini kita bisa kita lakukan mulai saat membangunkan mereka dari tidur. Saat sarapan pagi bersama. Atau saat melepas mereka berangkat ke sekolah, berangkat bekerja atau saat kita pamit meninggalkan mereka di rumah. Berikan bekal visual dengan wajah cerah dan senyuman yang indah. Berikan bekal auditory dengan ucapan yang lembut namun penuh semangat. Berikan bekal kinesthetic dengan sentuhan dan tepukan yang hangat. Tidak ada bekal yang lebih berarti untuk mengawali hari selain cinta dari orang-orang yang kita kasihi.

Mungkin kita bisa berpura-pura tersenyum meskipun kita jengkel. Mungkin kita berpura-pura lembut meskipun kita gemas. Mungkin kita bisa bersuara halus meskipun menahan marah. Namun akan jauh lebih baik bila jika semua itu kita lakukan dengan tulus. Pikiran, perasaan dan motorik kita membutuhkan congruence. Ketika salah satu tidak sejalan dengan yang lain, maka hal itu dapat dirasakan oleh orang lain. Apalagi oleh orang-orang terdekat kita, yang memiliki kepekaan emosional lebih dibandingkan dengan orang-orang lain. Jangan biarkan mereka menerima kepura-puraan. Jangan bingungkan mereka untuk memaknai incongruence dalam diri kita. Berikan bekal yang baik untuk mengawali hari mereka dengan tulus dan penuh cinta. Maka dengan sendirinya kitapun telah membekali diri kita sendiri untuk menempuh hari dengan sikap positif dan penuh semangat.

NLP TIPS

SLEEPING MIND: TEKNIK MENGOPTIMALKAN PIKIRAN SAMBIL TIDUR 

Bisa jadi terdengar aneh. Bagaimana mungkin seseorang yang tidur dapat mengoptimalkan kerja pikirannya? Bukankah selama ini yang kita pahami aktivitas (kalau boleh disebut sebagai aktivitas) tidur adalah sarana untuk beristirahat? Kesempatan untuk mengendurkan otot-otot yang tegang, melepaskan semua beban pikiran, dan menikmati keheningan yang nyaman. Itu pun tidak salah. Karena saat tidur gelombang otak melambat sehingga temperatur di sekitar otak menurun dan secara fisik dapat dinikmati sebagai rasa yang ringan dan nyaman.

Di sisi lain, bilamana kita memiliki satu atau beberapa issue (permasalahan) yang harus dianalisa, pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab, persoalan-persoalan yang membutuhkan alternatif pemecahan, atau bahkan adanya peluang yang membutuhkan munculnya gagasan atau ide-ide kreatif, maka kita membutuhkan waktu khusus untuk menganalisa, mencari jawaban-jawaban, mengidentifikasi alternatif-alternatif, serta menggali ide-ide dengan melakukan proses kreatif. Nah, bagaimana kalau beberapa aktivitas khusus yang terakhir ini bisa dilakukan sambil tidur? Bukankah akan membuat tidur kita lebih produktif? Di satu sisi memberi kesempatan fisik kita berisitirahat, di sisi lain beberapa persoalan dapat terpecahkan dan terselesaikan.

Diilhami oleh hasil riset Eric Maisel Ph.D dalam bukunya SLEEP THINKING yang menjelaskan 18 (delapan belas) langkah untuk mencapai Sleeping Mind, artikel ini memperkenalkan penerapan pendekatan NLP (Neuro Linguistic Programming) secara praktis, untuk mencapai Sleeping Mind agar lebih mudah dilakukan dan dapat mencapai hasil yang optimal.

MANFAAT DAN KELEBIHAN SLEEPING MIND

Sleeping Mind adalah berfikir (menjalankan fungsi otak secara optimal) sambil tidur (beristirahat secara fisik). Artinya manfaat yang diperoleh adalah sebagaimana lazimnya manfaat yang diperoleh seseorang sebagai hasil dari proses berfikir, seperti pemecahan masalah, memperoleh gagasan-gagasan baru atau menjawab pertanyaan serta persoalan. Karena dilakukan sambil tidur maka manfaat-manfaat tersebut dapat diperoleh tanpa harus menggunakan waktu khusus untuk berfikir atau merenung. Ibarat kata pepatah SAMBIL BERENANG MINUM AIR, sambil beristirahat kita berfikir, fisik yang letih kembali segar, sambil beberapa persoalan juga terselesaikan.

Jika dibandingkan dengan proses intelektual dan proses kreatif seperti biasanya, Sleeping Mind memiliki beberapa kelebihan. Selain efisien dalam hal pemanfaatan waktu, Sleeping Mind juga bersifat original dan genuine. Karena proses yang terjadi pada dasarnya adalah mengambil dan mengolah resource dan informasi yang ada pada diri kita sendiri, yang telah terekam dan ter-file rapi dalam bawah sadar kita. Sehingga hasil pemikiran Sleeping Mind juga bersifat Unique, dalam arti untuk suatu persoalan yang sama, bisa jadi masing-masing orang akan menemukan jawaban yang berbeda-beda, namun cocok dan sesuai dengan masing-masing orang tersebut.

LANGKAH-LANGKAH PRAKTIS SLEEPING MIND

Pejamkan mata Anda sekarang! Apa yang Ada lihat? HITAM. Sekarang pikirkan suatu benda, apapun benda itu asal konkrit! Sekarang pejamkan mata Anda! Apa yang Anda lihat? Ya, BENDA itu yang terlihat. Mengapa? Karena pikiran Anda sedang bekerja memikirkan benda itu.

Sleeping Mind bekerja pada gelombang otak sekitar gelombang Alpha-Theta, yaitu diantara gelombang Beta (normal, state of awareness) dan Delta. Yang terakhir ini alah kondisi tertidur lelap dan otak kita sudah tidak dapat menerima rangsang atau informasi dari indera kita. Kalangan Hypnotist dan Hypnotherapist menyebut gelombang Alpha-Theta sebagai Hypnosis State atau Suggestible State. Karena itu agar otak dapat bekerja dalam kondisi Sleeping Mind, kita harus mempertahankan gelombang otak agar tetap berada di gelombang Alpha-Theta. Perlahan-lahan kita tinggalkan gelombang Beta, seperti saat biasanya kita mulai tertidur, namun bertahan agar tidak keterusan sampai ke Delta.

Berikut langkah-langkah praktis untuk mencapai Sleeping Mind

1. Persiapan

Paparkan issue atau permasalahan yang ingin kita bahas senyata dan sedetail mungkin dalam selembar kertas. Baca berulang-ulang sampai secara visual kita bisa membacanya tanpa kita melihat kertas itu lagi. Kalau perlu keraskan suara Anda saat sehingga secara auditori telinga kita bisa mendengarnya meskipun pada saat kita sudah tidak membacanya lagi. Biarkan kertas dan alat tulis tetap berada di dekat tempat tidur karena akan digunakan untuk sesegera mungkin mencatat output dari Sleeping Mind.

2. Memulai

Lakukan Relaksasi. Nyamankan diri Anda secara fisik. Gunakan pakaian yang longgar. Lemaskan otot-otot yang tegang dan kendurkan bagian-bagian tubuh yang terasa kaku. Lalu pejamkan mata dan rasakan kenyamanan di seluruh tubuh sampai kendur dan ringan. Lakukan Affirmasi “Aku lakukan Sleeping Mind. Badanku tidur dengan nyaman. Pikiranku berfungsi optimal untuk menemukan jawaban atas persoalan ….. (sebutkan issue yang akan Anda pikirkan).

Perlahan-lahan munculkan secara visual (sambil tetap memejamkan mata) gambaran issue yang telah Anda tuliskan di selembar kertas tadi. Visualkan senyata mungkin tulisan-tulisan Anda di depan mata Anda. Jika tadi Anda membacanya dengan suara keras, dengarkan kembali di telinga Anda suara ketika Anda membacanya tadi.

3. Memproses

Perlahan-lahan rasakan tubuh Anda semakin ringan dan visualisasi Anda mulai mengabur (tidak se”vivid” ketika Anda mulai melakukan visualisasi). Rasakan bahwa Anda mulai tidak bisa menggerakkan anggota badan Anda, seperti menggeser kaki, menggerakkan leher atau memindahkan tangan. Tapi Anda masih tetap mendengar suara yang masuk ke telinga Anda. Jaga agar Anda tetap bisa menangkap suara dari luar meskipun Anda sudah tidak dapat bereaksi lagi terhadap rangsang tersebut. Saat ini Anda sudah mulai masuk ke Sleeping Mind.

4. Memetik Hasil

Perlahan-lahan Anda akan mulai memperoleh hasil dari Sleeping Mind. Visual Anda akan menangkap gambar atau tulisan-tulisan lain yang merupakan jawaban dari persoalan-persoalan yang tadi Anda ajukan. Telinga Anda akan mulai mendengar suara yang merupakan gagasan-gagasan baru atas rencana-rencana Anda. Anda merasakan ada keinginan-keinginan untuk melakukan aktivitas yang merupakan langkah-langkah konkrit untuk meyelesaikan permasalahan Anda.

Jika Anda tiba-tiba terjaga dari tidur dan kontak dengan realita, sesegera mungkin catat apa yang terakhir Anda lihat, dengar atau rasakan sebagai hasil dari Sleeping Mind Anda. Karena ini berasal dari Unconscious, jika Anda tidak segera mencatatnya, bisa jadi Anda akan segera kehilangan. Cara lain untuk segera me-record hasil Sleeping Mind Anda adalah dengan menyiapkan alat perekam seperti Ipod atau Tape Recorder.

Proses ini bisa dilanjutkan kembali bilamana kita kembali melanjutkan tidur kita. Baik untuk issue yang sama maupun issue yang lain. Pada saat-saat awal kita melatih Sleeping Mind, bisa jadi saat bangun tidur tubuh kita merasa kurang nyaman. Mungkin terasa pegal, berat atau seperti gejala kurang tidur lainnya. Hal ini normal dan manusiawi karena tubuh kita membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan sesuatu yang terjadi di luar kebiasaan sehari-hari. Dengan latihan yang teratur dan berulang-ulang, seluruh tubuh kita akan berdamai dengan kebiasaan baru kita (parts integration), dan lama-kelamaan ikut menikmatinya pula.

Kalau boleh mengambil referensi, ada seorang tokoh nasional (bahkan internasional) bangsa kita yang piawai menjalankan Sleeping Mind ini. Entah dipelajari atau bakat bawaan, beliau (yang pernah menjadi Presiden RI ini) justru lebih cerdas dan produktif dalam berfikir dalam kondisi ini dibanding dalam kondisi terjaga. Hal ini dikemukakan oleh seorang rekan yang pernah menjadi orang dekat beliau karena pernah menjadi Staf Ahli Ibu Negara dan Anggota Tim Media dan Komunikasi Juru Bicara Kepresidenan.

Apa salahnya kita menggunakan teknik yang sama untuk memperolah hasil yang terbaik dalam hidup kita. Jika kita sudah punya intelekualitas kita yang biasa kita gunakan dalama keadaan sadar sebagai suatu senjata, maka kini saatnya kita gunakan senjata lain yang belum kita manfaatkan secara optimal, yaitu menggunakan kecerdasan intelektual kita dalam keadaan tidur yaitu dengan menggunakan teknik Sleeping Mind. Bukankah memiliki dan menggunakan 2 senjata lebih baik ketimbang hanya mengandalkan 1 senjata? Selamat mengoptimalkan pikiran sambil menikmati tidur!

(Abdul Aziez, 2007)

Contact: 031 70922422 / 081 137 3596 / nlp-consult@hotpop.com / http://aziez.wordpress.com